Kumpulan Adab Membaca AlQuran Yang Wajib Di Amalkan Seorang Muslim

Al-quran adalah kitab suci umat islam. Turun kepada umat manusia melalui malaikat Jibril, dan kemudian dibacakan kepada Nabi Muhammad Saw. Adab membaca alquran pun telah beliau contohkan.

Mempelajari Al-qur’an itu penting kawan. Karena inilah satu-satunya kitab yang releven di setiap zaman. Kitab ini tak akan kadaluarsa. Dan juga kitab ini berisikan petunjuk kehidupan di dunia.

Maka membacanya ada adabnya. Kalo orang jawa bilang toto kromo. Dan adab ini berlaku meskipun membaca dengan aplikasi alquran digital android.

tadabbur adab membaca alquran

Apa Saja Adab Membaca AlQuran yang Harus Diperhatikan?

Bertujuan ikhlas ketika mempelajari maupun ketika membaca al-Qur‘an

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah : bahwasanya beliau berkata, Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda,

 إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا ، قَالَ : فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا ؟ قَالَ : قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ ، قَالَ : كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ : جَرِيءٌ ، فَقَدْ قِيلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ ، وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ ، وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا ، قَالَ : فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا ؟ قَالَ : تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ ، وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ ، قَالَ : كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ : عَالِمٌ ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ : هُوَ قَارِئٌ ، فَقَدْ قِيلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ

” Sesungguhnya orang-orang pertama yang diputuskan perkaranya pada Hari Kiamat adalah: (pertama), seorang laki-laki yang mati syahid. Lalu dia dihadapkan, kemudian Allah menunjukkan kepadanya nikmat-nikmatNya, maka dia pun mengenalinya. Allah berfirman, ‘Maka apa yang telah engkau lakukan pada nikmat-nikmat itu?’ Laki-laki itu menjawab, ‘Aku telah berperang karenaMu hingga aku mati syahid.’ Allah berfirman, ‘Engkau telah berdusta, akan tetapi engkau berperang agar dikatakan seorang pemberani. Maka sungguh itu telah dikatakan.’ Kemudian diperintahkanlah (malaikat untuk mengazabnya), maka dia diseret di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.

(Kedua), seorang laki-laki yang belajar ilmu dan mengajarkannya, serta (gemar) membaca alQur‘an. Lalu dia dihadapkan, kemudian Allah menunjukkan kepadanya nikmat-nikmatNya, maka dia pun mengenalinya. Allah berfirman, ‘Maka apa yang telah engkau lakukan pada nikmat-nikmat itu?’ Laki-laki itu menjawab, ‘Aku telah belajar ilmu dan mengajarkannya, dan aku (gemar) membaca al-Qur“an karenaMu.’ Allah berfirman, ‘Engkau telah berdusta, akan tetapi engkau belajar ilmu agar dikatakan sebagai seorang yang alim (berilmu) dan engkau membaca al-Qur‘an agar dikatakan dia seorang yang ahli baca alQur‘an. Maka sungguh itu telah dikatakan.’ Kemudian diperintahkanlah (malaikat untuk mengazabnya), maka dia diseret di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka. . .. ” diriwayatkan oleh Muslim, no 1905

Keharusan Mengamalkan Al-Qur‘an

Terdapat riwayat dalam hadits tentang mimpi Nabi SAW yang panjang (dengan kawalan dua orang malaikat), yang di dalamnya disebutkan sabda beliau,

قَالَا انْطَلِقْ فَانْطَلَقْنَا حَتَّى أَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُضْطَجِعٍ عَلَى قَفَاهُ وَرَجُلٌ قَائِمٌ عَلَى رَأْسِهِ بِفِهْرٍ أَوْ صَخْرَةٍ فَيَشْدَخُ بِهِ رَأْسَهُ فَإِذَا ضَرَبَهُ تَدَهْدَهَ الْحَجَرُ فَانْطَلَقَ إِلَيْهِ لِيَأْخُذَهُ فَلَا يَرْجِعُ إِلَى هَذَا حَتَّى يَلْتَئِمَ رَأْسُهُ وَعَادَ رَأْسُهُ كَمَا هُوَ فَعَادَ إِلَيْهِ فَضَرَبَهُ قُلْتُ مَنْ هَذَا قَالَا انْطَلِقْ فَانْطَلَقْنَا

“… keduanya berkata, ‘Bertolaklah pergi.’ Lalu kami pun pergi berlalu hingga kami mendatangi seorang laki-laki yang berbaring di atas tengkuknya, dan seorang laki-laki lainnya berdiri di samping kepalanya dengan (memegang) palu godam atau sebongkah batu,

lalu dia memecahkan kepalanya dengannya. Apabila telah menghantamnya, maka batu itu pun menggelinding, lalu lelaki (yang berdiri) itu bergerak kepada batu itu untuk mengambilnya, dan belumlah dia kembali kepada laki-laki (yang terbaring) ini hingga kepalanya telah pulih kembali dan kepalanya telah kembali seperti semula, maka dia pun kembali kepadanya lalu menghantamnya lagi. Maka aku bertanya, ‘Siapa orang ini ?’ Kedua malaikat itu berkata, ‘Bertolaklah pergi ‘ . ..

وَالَّذِي رَأَيْتَهُ يُشْدَخُ رَأْسُهُ فَرَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَنَامَ عَنْهُ بِاللَّيْلِ وَلَمْ يَعْمَلْ فِيهِ بِالنَّهَارِ يُفْعَلُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

(Kemudian ditafsirkanlah hal itu untuk Nabi SAW, di mana beliau menceritakan, ” (Malaikat itu berkata), ‘Adapun orang yang engkau lihat dipecahkan kepalanya maka dia itu adalah seorang laki-laki yang Allah mengajarkan al-Qur’an kepadanya, tetapi dia tidur di malam hari (tidak menggunakannya untuk shalat malam) dan tidak mengamalkannya di siang hari. Siksa seperti itu akan diterapkan padanya hingga Hari Kiamat’. diriwayatkan oleh Bukhori no 1386

Anjuran terus mengingat-ingat al-Qur‘an dan memeliharanya

Yakni menjadikan kebiasan membacanya, mengulang-ulang hafalannya. berdasarkan sabda Nabi Saw,

تَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنْ الْإِبِلِ فِي عُقُلِهَا

“Peliharalah al-Qur“an (dengan mengulang-ulang hafalannya), demi Dzat yang jiwaku berada di TanganNya, sungguh (hafalan) al-Qur‘an itu lebih (gampang) lepas daripada unta di ikatan tambatnya. ” diriwayatkan Bukhori no 5033

Jangan mengatakan, “Aku lupa”, tetapi katakanlah, “Aku dilupakan”

Merupakan adab kepada Al-qur’an adalah senantiasa mengingatnya apabila telah dihafal. Namun seringkali kita salah ucap, “Aku lupa Ayatnya” dll. Perkataan tersebut sebaiknya diganti menjadi “Aku dilupakan”. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah,

بِئْسَمَا لأَحَدِهِمْ يَقُولُ نَسِيتُ آيَةَ كَيْتَ وَكَيْتَ بَلْ هُوَ نُسِّيَ ، اسْتَذْكِرُوا الْقُرْآنَ ، فَلَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنْ صُدُورِ الرِّجَالِ مِنَ النَّعَمِ بِعُقُلِهَا

Alangkah buruk salah seorang dari kalian mengatakan, “Aku lupa ayat ini dan ayat itu”. Sebab ia telah dilupakan. Maka, ingat-ingatlah Al-Qur`an. Hafalan Al-Qur`ân itu lebih mudah lepas dari hati orang-orang daripada seekor unta dari ikatannya”. diriwayatkan Al-Bukhari no.5032

Wajibnya (tadabbur), Merenungi maknanya

Adab ini sesuai dengan Firman Allaah :

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ ۗ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللّٰهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلَافًا كَثِيْرًا

Maka tidakkah mereka menghayati (mendalami) Al-Qur’an? Sekiranya (Al-Qur’an) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.  An-Nisa’ : 82

Dengan memperhatikan maknanya kita dapat mengambil berbagai kebaikan. Dan denganya keimanan dalam hati akan semakin kuat. Dan dengannya pula kita diberikan petunjuk dalam kehidupan di dunia ini.

Boleh membacanya dalam keadaan berdiri, berjalan, berbaring maupun ketika berkendara

Mari kita simak kebolehan ini yang berdasar firman Allah :

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka. Ali Imran : 191

Dan Rasulullah Saw pun telah mengajarkannya. Dari Abdullah bin Mughaffal Radhiyallahu anhu berkata,

Aku melihat Rasulullah SAW pada hari penaklukan Makkah, beliau membaca suat Al-Fath di atas kendaraannya. diriwiyatkan Muslim No 794

Dan di hadits lain, Istri rasulullah SAW, Aisyah Radhiyallahu anha berkata,

“Bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah tiduran di pangkuanku dan aku sedang haid, beliau membaca al-qur’an” diriwayatkan oleh Muslim no 301

Bersiwak sebelum membacanya

Disunnahkan membersihkan mulut dengan bersiwak sebelum (memulai) membaca al-Qur‘an. Hal ini berdasarkan apa yang diriwayatkan sahabat Hudzaifah, beliau berkata,

“Dahulu apabila Nabi SAW bangun di malam hari, maka beliau menggosok mulut beliau dengan siwak.” diriwayatkan oleh Muslim no 255

Taawudz sebelum membaca al-quran

Di antara sunnah ketika membaca al-Qur‘an adalah membaca isti’adzah (ta’awwudz) dan basmalah, kecuali Surat at-Taubah, maka cukup beristi’adzah kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

Allah Berfirman

فَاِذَا قَرَأْتَ الْقُرْاٰنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ

Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al-Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. An-Nahl : 98

Di antara adab membaca alquran adalah membacanya di awal kalimat

Imam an-Nawawi berkata, “Disunnahkan bagi orang yang membaca al-Qur‘an, apabila dia mulai dari tengah surat, hendaklah dia memulai dari awal kalam”, di mana antara satu dengan lainnya saling berkaitan.”

Membaca dengan Tartil itu Wajib

Sunnah membaca al-Qur‘an secara tartil (perlahan-lahan) sambil tadabbur, dan makruh membacanya terlalu cepat. Hal ini berdasarkan firman Allah Taala,

وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ

Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.(Al-Muzzammil: 4)

Memanjangkan bacaan mad ( berdasar tajwid)

Disunnahkan memanjangkan bacaan-bacaan mad. Sahabat Nabi SAW, Anas  pernah ditanya,

“Bagaimana cara baca Nabi SAW? Maka dia menjawab, “Beliau membaca dengan memanjangkan, kemudian beliau membaca, ‘Bismillahirrahmanirrahim.’ Beliau memanjangkan ‘Bismillaah,’ memanjangkan ‘ar-Rahmaan,’ dan memanjangkan ‘ar-Rahiim”. diriwayatkan oleh Bukhori no 5045

Anjuran melagukan bacaan al-quran

Disunnahkan membaguskan suara dalam membaca alQur‘an, dan dilarang membaca dengan dialek yang mendayu-dayu. Nabi Muhammad SAW bersabda,

زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ

Hiasilah al-Quran dengan suara kalian. (HR. Ahmad 18994, Nasai 1024)

Dan di hadits lain Nabi Muhammad SAW bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ

Siapa yang tidak memperindah suaranya ketika membaca al-Quran, maka ia bukan dari golongan kami. (HR. Abu Daud 1469, Ahmad 1512)

Bagaimana bila menangis ketika membaca al-quran?

Menangis saat membaca dan menyimak bacaan al-Qur‘an dan terdapat Sunnah yang tsabit mengenai ini. Dan ini pun merupakan tanda-tanda orang beriman sebagaimana firman Allah,

وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا

Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’. Surat Al-Isra’ : 109)

Dan dalam sebuah hadits pun Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ نَزَلَ بِحُزْنٍ، فَإِذَا قَرَأْتُمُوهُ فَابْكُوا، فَإِنْ لَمْ تَبْكُوا فَتَبَاكَوْا

“Sungguh Al-Qur’an ini turun dengan kesedihan, maka jika kalian membacanya, menangislah. Jika kalian tidak dapat menangis, maka berusahalah untuk menangis.” (HR. Ibnu Majah).

Keraskan suara apabila tidak menganggu

Disunnahkan menjahrkan (mengeraskan) suara dalam membaca al-Qur‘an apabila tidak menimbulkan kerusakan (hal-hal negatif). Semisal tidak mengganggu orang disamping kita. Ini berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Radhiyallaahu anhu, dia berkata,

“Rasulullah SAW beri’tikaf di masjid, lalu beliau mendengar mereka (sejumlah sahabat) menjahrkan (mengeraskan) bacaan, maka beliau menyingkap tirai (rumah beliau), dan beliau bersabda, ‘Ketahuilah [sesungguhnya] setiap kalian bermunajat kepada Tuhannya, maka janganlah sebagian kalian menyakiti sebagian yang lain, dan janganlah sebagian kalian mengeraskan suaranya atas sebagian yang lain dalam membaca al-Qur‘an -atau: dalam Shalat-‘. diriwayatkan oleh Abu Dawud no 1332

Adakah doa khatam al-quran?

Tidak ada doa tertentu setelah seseorang mengkhatamkan al-Qur‘an, dan mengadakan perayaan dalam rangka menghafal al-Qur‘an itu bukanlah suatu yang sunnah.

Adapun apa yang dilakukan oleh banyak orang dengan asumsi bahwa itu adat kebiasaan di daerahnya (bukan menyatakannya sebagai syariat) sebagai ungkapan rasa gembira dengan adanya nikmat berhasil menghafal al-Qur‘an, maka tidaklah apa-apa.

Berhenti apabila terasa mengantuk

Berhenti membaca al-Qur‘an apabila telah merasakan kantuk berat. Berdasarkan sabda Nabi SAW,

“Apabila salah seorang dari kalian shalat di malam hari, lalu bacaan al-Quran(nya) menjadi tidak jelas di lidahnya, lalu dia tidak mengetahui (lagi) apa yang dibacanya, maka hendaklah dia berbaring (istirahat).” diriwayatkan oleh Muslim no 787

Mencari tempat tenang agar lebih fokus

Memilih tempat yang tenang dan waktu yang sesuai; karena itu lebih mengundang bersatunya keinginan kuatnya dan kejernihan hatinya.

Mendengarkan dengan khusyuk

Menyimak dengan baik dan diam khusyu’ ketika mendengar bacaan al-qur‘an, berdasarkan Firman Allah ta’ala,

وَاِذَا قُرِئَ الْقُرْاٰنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat.(Al-A’raf : 204).

Mentadabburinya dan memohon surga

Berinteraksi bersama ayat-ayat al-Qur‘an, dengan memohon surga kepada Allah ketika membaca ayat tentangnya, dan memohon perlindungan dari neraka ketika membaca ayat yang menyebutkannya. Allah ta’ala berfirman,

كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ

Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran. Surat Shad : 29

Bolehkah membaca alquran ketika haid?

Perempuan yang sedang haid dan nifas boleh membaca al-Quran tanpa menyentuh mushaf al-Qur‘an. Dan boleh menyentuhnya dengan tabir pelapis berdasarkan pendapat yang lebih shahih dari dua pendapat ulama. Karena tidak ada riwayat yang kuat dari Nabi SAW, yang mencegah hal tersebut.

Sunnahnya membaca tasbih

Termasuk Sunnah adalah membaca tasbih (subhanallah) ketika melewati ayat yang mengandung tasbih (penyucian nama Allah), dan memohon perlindungan (ta’awwadz) dari azab ketika melewati ayat tentang azab. Serta memohon karunia kepada Allah ketika melewati ayat rahmat. Dalam hadits Hudzaifah radhiyallaahu anhu, dia berkata,

“Apabila beliau (Nabi SAW) melewati ayat yang di dalamnya ada tasbih, maka beliau bertasbih, dan apabila melewati ayat permohonan maka beliau memohon, dan apabila beliau melewati ayat permohonan perlindungan (ta’aw’wadz), maka beliau memohon perlindungan (kepada Allah).” diriwayatkan oleh Muslim no 727

Disunnahkan dalam keadaan suci ketika membaca al-quran

Hendaklah orang yang membaca al-Qur‘an dalam keadaan memiliki wudhu (suci dari hadats kecil), bersih pakaian, badan, dan tempatnya. Dan terjadi perbedaan pendapat (di antara para ulama) tentang anak kecil, apakah harus berwudhu atau tidak untuk (boleh) memegang mushaf al-Qur‘an. Dan pendapat yang lebih berhati-hati bahwa dia harus berwudhu. Hal ini disebutkan dalam al-fawa al-islamiyah oleh ibnu utsaimin.

Larangan membaca al-quran secara acak

Disunnahkan menyambung bacaan al-Qur‘an dan tidak memotong-motongnya (secara acak). Seorang tabi’in yang agung, Nafi’ meriwayatkan “Bahwa Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, apabila membaca al-Qur‘an, maka beliau tidak akan berbicara hingga beliau selesai darinya…. ” di riwayatkan oleh Bukhari no 4526

Dianjurkan sujud tilawah ketika membaca ayat sajdah

Termasuk Sunnah adalah bersujud ketika melewati bacaan ayat sajdah. Dan dianjurkan bagi yang mendengar bacaan ayat sajdah untuk ikut sujud

Hadits Ibnu ‘Umar: “Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca Al Qur’an yang di dalamnya terdapat ayat sajadah. Kemudian ketika itu beliau bersujud, kami pun ikut bersujud bersamanya sampai-sampai di antara kami tidak mendapati tempat karena posisi dahinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan di hadits lain, Rasullullah SAW bersabda, “Jika anak Adam membaca ayat sajadah, lalu dia sujud, maka setan akan menjauhinya sambil menangis. Setan pun akan berkata-kata: “Celaka aku. Anak Adam disuruh sujud, dia pun bersujud, maka baginya surga. Sedangkan aku sendiri diperintahkan untuk sujud, namun aku enggan, sehingga aku pantas mendapatkan neraka.” (HR. Muslim no. 81)

Bolehkah mencium mushaf?

Dimakruhkan mencium mushaf quran dan menempelkannya di antara kedua mata (kening). Yang pada umumnya dilakukan setelah selesai membaca al-quran. Atau ketika mendapati mushaf diletakkan di tempat yang usang.

Namun boleh mencium mushaf apabila terjatuh dari tangan. Hal ini sesuai pendapat syaikh Ibnu Baz rahimahullah, Jika seseorang mencium al-quran sebagai pengagungan ketika terjatuh dari tangannya misalnya, atau dari tempat yang tinggi, maka itu tidak apa-apa.

Bolehkan menggantungkan ayat al-quran di dinding?

Syaikh Ibnu Baz pernah berpendapat, bahwasanya dimakruhkan menggantungkan ayat-ayat al-quran di dinding dan semacamnya.

Bahkan para 4 imam madzhab pun sepakat tidak menganjurkan hal tersebut. Sebagian berpendapat malah dapat melecehkan ayat al-quran.

Kami nukilkan perkataan Imam al-Qurthubi,

ومِن حرمته ألاَّ يُكتب على الأرض ولا على حائط كما يُفعل به في المساجد الْمُحدَثة

Diantara tindakan menghormati al-Quran ialah, tidak boleh ditulis di tanah maupun di atas tembok, sebagaimana yang terjadi pada masjid-masjid di zaman ini.

Tinggalkan komentar