Ayat Kursi, Terjemah Serta Tafsirnya Oleh Hamka [LENGKAP]

Seorang muslim pastilah tak pernah asing dengan ayat kursi. Bahkan sering sekali dibaca ketika sholat. Mengetahui arti ayat kursi sangatlah penting. Agar ibadah kita semakin khusyuk, atau pun mudah untuk di tadabbur. Banyak sekali keutamaan ayat kursi yang sering kita temui. Dan di artikel ini akan membahas lebih detail dari ayat kursi, mulai terjemahan nya, keutamannya serta tafsirnya yang mana kita ambil dari tafsir al-azhar karya Buya Hamka.

Ayat ke 255 dari surat al-baqarah ini sangatlah favorit. Dimana ayat tersebut terletak di juz 3 pada halaman pertama. Apakah kamu sudah hafal? Yuk mari simak

Tulisan Ayat Kursi Arab
Tulisan Ayat Kursi

Bacaan Ayat Kursi Arab, Latin dan Terjemah

اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ

allāhu lā ilāha illā huw, al-ḥayyul-qayyụm, lā ta`khużuhụ sinatuw wa lā na`ụm, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man żallażī yasyfa’u ‘indahū illā bi`iżnih, ya’lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭụna bisyai`im min ‘ilmihī illā bimā syā`, wasi’a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā ya`ụduhụ ḥifẓuhumā, wa huwal-‘aliyyul-‘aẓīm

Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mahahidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Mahatinggi, Mahabesar.

Asbabun Nuzul (Sejarah Turunnya Ayat Kursi)

Ayat kursi ini diturunkan Allah SWT pada suatu malam ketika Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekkah ke Madinah Munawaroh. Penurunan ayat kursi ini diantarkan oleh malaikat yang jumlahnya hingga ribuan, kenapa sampai diantarkan ribuan malaikat? Karena ayat kursi ini adalah salah satu ayat yang sangat mulia di dalam kitab suci Al quran, oleh karena itu para malaikat pun mengiringinya atas perintah Allah SWT.

Tafsir Ayat Kursi Oleh Buya Hamka

Berikut ini adalah tafsir ayat kursi yang telah kami ambilkan langsung dari bukunya.

Pada ayat-ayat yang sebelumnya kita telah diberi pengertian yang dalam sekali tentang perjuangan hidup. Ketika membicarakan Bani Israil mencari raja lama sesudah Nabi Musa meninggal, demikian juga sesudah Daud menang berhadapan dengan Jalut, kita telah diberi pengertian bahwa Tuhan memberi kekuatan kepada yang lemah buat mempertahankan diri daripada tindasan yang lebih kuat.

Di ayat berikutnya diterangkan pula bahwa Tuhan telah mentakdirkan manusia berselisih dan bertengkar. Tetapi kitapun telah diberitahu bahwasanya inti jiwa manusia selalu ingin kepada kebenaran, tidak suka kepada yang mudharat dan suka kepada yang manfaat. Bertambah dipelajari keadaan manusia, bertambah kita tafakkur akan kekuasaan Tuhan.
Niscava timbullah pertanyaan: Siapa Tuhan? Tuhan itu ialah: ALLAH. Tidak ada TUHAN melainkan DIA! (pangkal ayat 255).

Apa arti Tuhan? Tuhan ialah yang menurut naluri manusia wajib dipuji dipuja, disembah disanjung. Tuhan itu ialah Kekuasaan Tertinggi yang mutlak yang diakui ADANYA oleh akal manusia yang sehat. Dia tidak dapat ditangkap oleh pancaindera dan tidak kelihatan oleh mata, tetapi akal murni. manusia mengakui akan adanya Kekuasaan Tertinggi itu. Bekas perbuatanNya inilah yang membuktikan bahwa DIA ADA.

Bertambah mendalam pengetahuan dalam segala segi, bertambah jelas adanya peraturan dalam alam ini. Akal manusia membuktikan adanya akal raya, akal agung. Kecil rasanya manusia di hadapan akal yang agung itu. Sehingga akhirya ahli filsafat keagamaan sampai kepada kesimpulan akal (logika) bahwa yang ADA itu ialah ILMU. Maka ilmu adalah salah satu daripada sifatNya atau namaNya.

Maka terdapatlah di dalam yang diadakanNya itu HIDUP. Maka timbullah kesan bahwasanya segala yang hidup ini, baik manusia dengan akalnya atau nabatat (tumbuh-tumbuhan) dengan kesuburannya, atau hayawanat (binatang-binatang) dengan nalurinya; semuanya itu hidup, pasti diberi hidup oleh yang sebenar HIDUP. Dalam akal mencari-cari itu datanglah tuntunan ayat ini: Yang ADA itulah ALLAH! Tidak Tuhan, artinya tidak ada yang patut dipuja, disembah, dimuliakan, melainkan DIA.

Sebab tidak ada yang berkuasa seperti DIA. “Yang Hidup, yang berdiri sendiriNya.” Mustahil artinya tidak serupa dalam akal bahwa segala yang didapati hidup ini adalah hidup dengan sendirinya, atau dia hidup tetapi hidupnya itu berasal dari tidak apa-apa atau bersumber dari yang mati. Boleh untuk mengetahui ini kita pinjam perkataan Socrates: “Kenallah dirimu!”

Dan boleh kita meminjam perkataan pelopor ahli filsafat modern Descartes: “Aku berpikir, sebab itu aku ada!” Dan boleh kita lanjutkan kepada kata ahli agama: “Barangsiapa mengenal dirinya, niscaya kenallah dia akan Tuhannya. Kita hidup dan alam sekeliling kelihatan hidup. Niscaya hidup yang ada ini adalah bersumber daripada HIDUP yang sebenar hidup. ALLAH itulah yang HIDUP. Atau boleh diteruskan: ALLAH ITULAH HIDUP. Dan Dia berdiri sendiriNya, artinya tidak Dia bersekutu dengan yang lain, sebab
persekutuan adalah alamat dari kelemahan.

Kedua atau ketiga yang bersekutu, makanya bersekutu ialah apabila kedua atau ketiganya lemah berdiri sendiri-sendiri. Maka yang sanggup berdiri sendiri itulah dia yang ALLAH. Kita ini hidup. Kesadaran kita akan adanya diri kitalah yang menunjukkan bahwa kita hidup. Kemudian kita coba menoleh kepada alam yang di sekeliling kita; kepada tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan. Kepada berbagai buah-buahan dan berbagai rasanya; ada mangga, ada rambutan, ada durian, ada jenuk berbagai ragam. Semuanya tumbuh dalam setumpak tanah.

Tanah yang dihisapnya tempatnya hidup, tanah yang itu juga. Air hujan yang turunpun air hujan yang itu juga, bahkan angin yang berhembus sepoi-sepoi pun yang itu juga. Mengapa semuanya itu jadi hidup dan masing-masing membawa rasa sendiri-sendiri dan warna sendiri-sendiri, Mengapa jeruk yang asam-pahit berdekat tumbuh dengan nenas yang manis? Kadang-kadang buah yang masih mengkal bercampur dan bertambah masak dan ranum menjadi manis rasanya.

Apakah semuanya itu terjadi atas kehendak hidup dari tum-buh-tumbuhan itu sendiri, hasil permusyawaratan mereka? Niscaya mustahil! Kita lihat ikan yang hidup di air tawar (ikan darat) dan yang hidup di air asin (ikan laut). Kita pindahkan ke dalam aquarium, kita lihat pagi dan petang; alangkah tenteram ikan-ikan itu hidup di dalam air, padahal kita sendiri tidak sanggup pindah buat hidup di dalam air itu.

Para ahli dapat mengatakan bahwa karena adanya insang pada ikan, maka ikanpun sanggup hidup dalam air, tidak sanggup hidup di darat. Mengapa para ahli itu tidak membuatkan insang kepada manusia, sehingga manusia dapat hidup di dalam air, karena bumi itu sudah terlalu sempit buat tempat berkelahi? Ikan yang hidup di dalam air asin sekali-sekali tidaklah pernah asin. Setelah ikan itu mati, barulah dia dapat dijadikan ikan asin. Namun selama dia masih hidup di dalam air yang sangat asin, dia sendiri selamanya tidak akan asin.

Seorang penyelidik kuman, duduk dengan tekun di hadapan mikroskopnya melihat dan meneropong seekor tungau atau tuma atau kutu. Ternyata bahwa tungau, tuma dan kutu yang amat kecil itu, setelah dibesarkan dengan mikroskop, rupanya mempunyai hati dan jantung juga, mempunyai mata dan telinga juga, dan bentuk bikinannya tidak kurang dahsyatnya dengan alat-alat yang terdapat pada gajah.

Orang telah mempelajari Ilmu Hayat di dalam satu Universitas atau Fakultas yang khusus mempelajari itu. Orang hanya dapat mengetahui serba-serbi keganjilan hidup pada segala yang hidup itu. Tetapi di belakang pengetahuan tentang keadaan hidup, namun orang belumlah dapat memecahkan apakah hakikat hidup. Dan dari mana datangnya hidup. Orang akan sampai kepada satu pertanyaan: Segala keganjilan hidup yang terdapat itu mungkinkah terjadi dengan sendirinya? Apakah ada asal-usulnya? Kalau ada asal-usul hidup, mungkinkah asal-usul itu mati? Artinya mungkinkah timbul yang hidup daripada yang mati? Tentu tidak mungkin.

Di sinilah permulaan sampai fikiran kepada AL-HAYYU; kepada hidup yang sebenar hidup. DIAlah sumber segala kehidupan yang sebenarnya, DIA-lah Tuhan, DIAlah ALLAH. Tidak ada yang sebenarnya hidup, melainkan DIA. Sebab segala yang kelihatan hidup ini, bersumber dari hidup itu dan kembali ke dalam hidup itu. Maka hidup yang sebenarnya hidup itu tidaklah pernah merasai mati. DIA hidup terus.

AL-QAYYUM: Artinya yang berdiri sendirinya, tidak bersandar atau bergantung kepada yang lain, sebab yang lain seluruhnya adalah makhlukNya. Yang lain ini ada juga; tetapi karena DIA yang menghidupkan. Yang lain hanya bisa berdiri karena DIA yang mendirikan.

Berkata Mujahid: Al-Qayyum ialah yang berdiri sendiri-sendirinya, sedang vang lain adalah bergantung kepadaNya.

Berkata ar-Rabi: Al-Qayyum ialah bahwa Dia yang menciptakan segala sesuatu, Dia yang memberinya rezeki, dan Dia yang memelihara.

Berkata Qatadah: Al-Qayyum artinya, memberi ukuran kekuatannya dan rezekinya.

Berkata Ibnul Arabi: Al-Qayyum, artinya Pengatur.

Pendeknya AL-QAYYUM ialah yang mutlak berdiri sendiri, tidak bergantung kepada yang lain. Dia yang menegakkan segala yang ada ini, sehingga tidak terupa pada akal adanya sesuatu atau tetap adanya, kecuali dengan DIA. Lantaran itu maka sifat Allah AL-QAYYUM itu disebut sebagai salah satu rangkaian Ism Allah al-A’zham.

“Dia tidak dihampiri oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur.” Hidup yang sejati itu, yaitu ALLAH, tidaklah masuk pada akal kalau Dia pernah mengantuk. Yang mengantuk itu hanya manusia dan binatang yang lain karena lelah dan payah. Oleh karena beratnya pekerjaan sehari-hari maka urat saraf menjadi lesu, mesti ditidurkan terlebih dahulu, barulah badan segar kembali setelah bangun dari tidur.

Memanglah demikian manusia ataupun makhluk melata di atas bumi ini; ada masa giat dan gesit, ada masa payah dan lelah. Maka tidak terupa pada akal kalau Allah yang hidup mengenal kantuk dan payah, sebab adanya Allah bukanlah terdiri daripada darah dan daging dan urat-urat saraf. Kalau Dia mengantuk dan tidur, samalah keadaannya dengan makhluk yang Dia jadikan. Apatah lagi sementara manusia ditimpa kantuk dan tidur, niscaya pekerjaan manusia terbengkalai. Tidak dapat diteruskannya selama dia mengantuk dan tidur. Ingatannya menjadi hilang, dia tidak tahu diri.

Masakan Pengatur Maha Tinggi dari alam, sumber dari segala kehidupan, akan terbengkalai pekerjaannya? Matahari selalu beredar, tidak terlambat walaupun seperempat detik; dia tiba pada ukurannya yang ditentukan pada waktunya yang tepat. Bumipun mengedari matahari sehingga terjadi siang dan malam. Tidaklah terkhayal dalam fikiran bahwa Maha Pentadbir itu pernah terkantuk atau tertidur.

Dia lebih Maha Besar daripada hanya peredaran siang dan malam, yang pada siang kita bekerja keras dan pada malam kita mengaso istirahat. Alam cakrawala, langit tujuh tingkat, dan bintang-gemintang, termasuk bumi ini adalah lebih besar, Maha Besar daripada hanya peredaran siang dan malam, yang bila matahari telah turun ke Barat badan mulai letih dan minta istirahat.

Bagaimana Dia akan mengantuk ataupun tidur, padahal KepunyaanNya-lah apa yang ada di semua langit dan apa yang dibumi.” Maka sangatlah tidak masuk dalam akal kalau Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu yang ada di semua langit dan di bumi itu akan mengantuk dan tertidur. Sebab bagaimanapun gagah perkasanya manusia, namun di saat dia mengantuk ataupun tertidur adalah saat yang benar-benar menunjukkan kelemahan dan tidak berkuasanya.

Maka sifat kekurangan yang demikian adalah mustahil, artinya tidak masuk akal jika difikirkan pada Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu itu. “Siapa yang akan memohonkan syafaat di sisiNya, kalau bukan dengan izin Nya?” Ini adalah menunjukkan KekuasaanNya yang mutlak, sehingga pemberian ampun atau kurnia yang akan Dia berikan kepada hambaNya yang terlalai ataupun lengah tidak dapat dicarmpuri orang lain.

Sebab tidak ada orang lain yang boleh disebut lain, sebab semua adalah hambaNya. Kalau dalam ayat ini Dia menyebutkan “kecuali dengan izinNya” bukanlah maksudnya ada orang lain yang akan diberiNya izin; ini hanya untuk menjelaskan mutlakNya kekuasaan saja.

“Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka.” Hanya Dia yang mengetahui apa yang dihadapan kita, meskipun kita bermata buat melihat apa yang di hadapan kita, maka banyaklah yang kelindungan yang tidak kelihatan oleh mata. Meskipun dia mempunyai akal dan perhitungan, namun perhitungan kita buat menghitung zaman depan. Kita, tidaklah selalu tepat.

Lebih banyak yang tidak tepat daripada yang tepat. Demikian pula yang ada di belakang kita, baik yang dibelakangi oleh badan kita, atau masa lampau yang telah kita tinggalkan. Sedang Allah mengetahui itu semuanya; kadang-kadang seakan-akan tersenyum-senyumlah Tuhan mentertawakan kita ketika kita mengelak-elak dari sesuatu yang kita sangka berbahaya, padahal kita tidak melihat bahwa bahaya itu sudah berdiri dekat sekali dengan kita.

Sebab itu maka Tuhan bersabda selanjutnya: “Sedang mereka tidaklah meliputi sesuatu juapun daripada ilmuNya.” Kadang-kadang hanya secubit kecil kita diberiNya ilmu, dan oleh karena diberiNya pengetahuan tentang yang secubit kecil itu, waktu kitapun tidak ada tersedia lagi buat mengetahui yang lain. Bertambah orang menjadi spesialis dalam satu ilmu, bertambahlah bingungnya menghadapi imu yang lain.

“Kecuali apa yang Dia kehendaki.” Artinya apa yang Dia kehendaki buat diberikan sajalah yang diberikan kepada kita manusia, serba sedikit. Karena kalau sudah agak banyak otak kita bisa pecah tidak dapat memikulnya. Sebab: “Meliputi pengetahuanNya akan semua langit dan bumi.” Yang dapat kita ketahui hanyalah serba sedikit daripada pengetahuan Allah yang ada di bumi.

Tempoh manusia tidak cukup buat pergi menyelidiki ilmu Tuhan Allah yang ada di semua langit. Kalau manusia mencoba-coba mendekati matahari, belum sampai ke sana, masih di tengah jalan dia akan hangus oleh panas sinar matahari itu. Yang paling dekat dari bumi hanya satu bintang satelit bumi yang bemama bulan; waktu “Tafsir” ini diperbuat, manusia sedang berusaha mempersiapkan perkakas buat sampai ke sana, moga-moga Tuhan memberi izin manusia sampai ke bulan.

Bukan buat membuktikan manusia berkuasa, sebab bulan hanyalah satu bintang kecil, pengiring bumi yang paling dekat kepada kita saja. Padahal di samping matahari kita ini, ada lagi berjuta matahari dan di samping bumi kita ada lagi berjuta-juta bintang lagi. Semuanya itu hanya untuk meyakinkan bahwa memang Ada Yang Maha Kuasa. “Dan tidaklah memberatiNya memelihara keduanya.” Kekuasaan mutlak kepunyaan Allah yang mengatur seluruh alam itu niscaya tidak merasa keberatan atau penat dan lelah mengatur seluruh langit dan bumi.

Sebab keberatan dan penat hanya terdapat pada makhluk, mustahil pada Allah yang tidak mengenal masa kecil ataupun masa tua, yang meliputi segala ruang dan meliputi segala waktu.

“Dan Dia adalah Maha Tinggi, lagi Maha Agung.” (Ujung ayat 255) Maha Tinggilah Allah daripada perumpamaan. KekuasaanNya yang meliputi langit dan bumi, demikian tinggi dan agungnya, sehingga terasa oleh tiap-tiap orang yang berpengetahuan tentang alam dalarm serba-serbi cabangnya. Dan ilmu hayat dalam segala seginya, dan ilmu tubuh manusia (anatomi) dengan segala keajaibannya.

Maka kalau banyak kita dengar keterangan daripada ahli-ahli agama bahwa kita selalu dianjurkan membaca ayat ini, yang dikenal dengan nama “AYATUL KURSI”, dapatlah kita memahami bahwa maksudnya ialah untuk menambah khusyu’ kita kepada Allah dan untuk menambah kita berusaha beribadat dengan langsung menghadapkan jiwa raga kepadaNya, dengan tidak memakai syafaat dan perantaraan.

Memang berpahala siapa yang membacanya dan memahamkan maksudnya, sebab di dalamnya tersimpul Tauhid yang sedalam-dalamnya. Adapun kalau hanya dibaca-baca saja, untuk obat sakit kepala, untuk menjadi azimat tangkal bahaya pianggang, maka samalah artinya dengan kata pepatah: Asing biduk kalang diletak.

Gambar Mushaf Al-Quran

Keutamaan Ayatul Kursi

Balasan surga bagi yang membaca ayat kursi

Rasullullah SAW Bersabda

Barang siapa membaca ayat kursi sehabis setiap sholat fardhu maka tiada penghalang baginya untuk memasuki surga kecuali hanya mati. (HR. Thabrani)

Maka hendaknya kita membiasakan membaca ayat kursi selepas sholat wajib. Insya Allaah sangatlah mudah karena ayat ini tidak terlalu panjang.

Kunci Doa Dikabulkan

Rasululllah Saw bersabda

Asma Allah yang paling Agung yang apabila dibaca dalam doa pasti dikabulkan ada dalam tiga tempat yaitu surat al-baqarah surat al-imron dan surat Thaha. (HR. Ibnu Majah)

Di hadits tersebut disebutkan ada 3 surat yang mana terdapat ayat yang dianjurkan untuk dibaca. Ayat tersebut adalah Al-Baqarah 255 (ayat kursi), Ali imron ayat 1-2, dan Surat Thoha ayat 111. Maka jangan lupa ya sob, mengingat keutamannya sangatlah ampuh untuk berdoa.

Bacaan Ayat Kursi Penangkal Bala Sebagai Ruqyah

Seperti yang kita ketahui, bahwa ayat kursi memiliki keutamaan seperti di atas. Dan akan lebih bagus lagi jika kita sering mendengarkannya. Berikut bacaan ayat kursi untuk ruqyah. Di dalam audio tersebut terdapat pula surat-surat lain. Yang dibacakan oleh Syaikh Misyari Rashid, InsyaAllaah sangat merdu dan menenangkan.

1 thought on “Ayat Kursi, Terjemah Serta Tafsirnya Oleh Hamka [LENGKAP]”

Leave a Comment

Share via
Send this to a friend